Kriptografi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana melakukan enkripsi dan dekripsi, dengan memanfaatkan model matematika tertentu. Kriptografi diilhami dengan teknik enkripsi atau teknik penyandian yang mengubah sebuah pesan yang dapat dibaca (plaintext) menjadi sebuah pesan yang acak dan sulit diartikan. Untuk dapat membaca pesan yang terenkripsi diperlukan proses terbalik dari enkripsi yang disebut dekripsi.
Kriptografi merupakan salah satu komponen keamanan data yang tidak bisa di abaikan keberadaannya dalam membangun keamanan komputer.Kriptografi merupakan suatu ilmu dan seni (science and art) dalam penyandian data, yang bertujuan untuk menjaga kerahasiaan dan keamanan data dari serangan ataupun diketahui oleh pihak yang tidak berhak.Dikatakan seni (art) karena dalam aplikasinya memiliki pola-pola tertentu dalam proses penyandian yang unik.
Penelitian mengenai kriptografi pun telah banyak dilakukan oleh para kriptoanalis. Antara lain Inu Laksito Wibowo (2001), Gok Asido Haro (2006), Retno Aji Wulandari (2009), Roby Irawan (2009), Eka Saefan Rukzam (2009), dan Nefianti (2009). Dari penelitian yang telah mereka lakukan menghasilkan program aplikasi untuk melakukan enkripsi data, baik berupa teks maupun gambar dengan berbagai metode dan algoritma yang berbeda-beda dan platform yang berbeda pula dalam pengimplementasiannya
Algoritma RSA
Algoritma RSA, ditemukan oleh 3 orang peneliti dari MIT (Massachussets Institute of Technology) pada tahun 1976, yaitu: Ron (R)ivest, Adi (S)hamir, dan Leonard (A)dleman. RSA merupakan salah satu dari public key cryptosystem yang sangat sering digunakan untuk memberikan kerahasiaan terhadap keaslian suatu data digital. Keamanan enkripsi dan dekripsi data model ini terletak pada kesulitan untuk memfaktorkan modulus n yang sangat besar. Sebuah operasi RSA, baik enkripsi, dekripsi, penandaan, atau verifikasi intinya adalah sebuah eksponensial terhadap modul.
Faktanya, keseluruhan kelompok dari user (pemakai) bisa memakai eksponen yang sama, dengan berbeda modulus (terdapat beberapa pembatasan pada faktor-faktor prima dari eksponen publik ketika diputuskan.) Hal ini menyebabkan proses enkripsi lebih cepat daripada proses dekripsi dan verifikasi lebih cepat dari pada penandaan. Dengan algoritma eksponensial modular (modular exponentiation) yang khas yang digunakan untuk mengimplementasikan algoritma RSA, operasi kunci publik membutuhkan O(k2) langkah, operasi kunci privat membutuhkan O(k3) langkah, pembangkitan kunci membutuhkan O(k4) langkah, dimana k adalah jumlah bit dari modulus
Digital Signature
Tanda tangan pada data digital ini disebut digital signature. Yang dimaksud dengan sidik digital bukanlah tanda tangan yang di-digitalisasi dengan alat scanner, tetapi suatu nilai kriptografis yang bergantung pada pesan dan pengirim pesan (hal ini kontras dengan tanda tangan pada dokumen kertas yang bergantung hanya pada pengirim dan selalu sama untuk semua dokumen) [Munir, 2006]. Hanya sistem kriptografi kunci-publik yang cocok dan alami untuk pemberian sidik digital. Hal ini disebabkan karena skema sidik digital berbasis sistem kunci-publik dapat menyelesaikan masalah non-repudiation
Daftar Pustaka : Andrianus Triorizka.2010. Penerapan Algoritma RSA untuk Pengamanan Data dan Digital Signature dengan .NET. Yogyakarta : STMIK AMIKOM